Motif dan Makna Berjilbab Mahasiswi Komunikasi Universitas Tadulako Palu

Sitti Murni Kaddi, Enjang Muhaemin

Abstract


This research-based paper aims to find out the motives and meanings of wearing headscarves by the students of Communication Studies at the Faculty of Social and Political Sciences, Tadulako University, Palu. The study uses qualitative research methods, with in-depth interview techniques, and observation, to explore the motives and veiled meanings of the female students. The research uses a phenomenological approach. The results of the study concluded two things. First, the causes of female students wearing headscarves are divided into two, namely the motives of the past and the motives of the future. Purposes of the past are encouraged because of encouragement and advice from parents and family, as well as shar' i motifs based on obligations established by Islam. The future motives underlying the female students to wear the veil are divided into the motivation of wanting to avoid bad things, wanting to control behavior, and wanting to be appreciated. Second, related to self-meaning, the students who wear the hijab interpret it as proof of love for God, and as a service to both parents.

Tulisan berbasis penelitian ini bertujuan untuk mengetahui motif dan makna pemakaian jilbab yang dilakukan para mahasiswi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Tadulako Palu. Penelitian menggunakan metode penelitian kualitatif, dengan teknik wawancara mendalam, dan observasi,  dengan tujuan menggali motif, dan makna berjilbab para mahasiswi. Penelitian menggunakan pendekatan fenomenologis. Hasil penelitian menyimpulkan dua hal. Pertama, motif mahasiswi memakai jilbab  terbagi menjadi dua, yaitu motif masa lalu dan motif masa depan. Motif masa lalu didorong karena dorongan dan nasehat dari orang tua dan keluarga, serta motif syar’i yang didasarkan pada kewajiban yang ditetapkan Islam. Adapun motif masa depan yang mendasari mahasiswi menggunakan jilbab terpilah pada motif ingin menghindari hal-hal buruk, ingin mengontrol tingkah laku, dan ingin dihargai. Kedua, berkaitan dengan makna diri,  para mahasiswi pemakai jilbab memaknainya sebagai bukti sayang kepada Allah, dan sebagai bakti kepada kedua orang tua.

Keywords


wearing hijab, meaning of veiling, student motives

Full Text:

PDF

References


Alase, A. (2017). The Interpretative Phenomenological Analysis (IPA): A Guide to a Good Qualitative Reseach Approach. International Journal of Education and Literacy Studies, 5(2). DOI: 10.7575/aiac.ijels.v.5n.2p.9

Asis, P.H. (2017). Makna Berhijab Bagi Muslimah: Sebuah Persepsi Mahasiswa FISIP Universitas Muhammadiyah Kendari. Jurnal Dakwah Tabligh. 18(2) 2017.

Barnard, M. (2011). Fashion sebagai Komunikasi, Cara Mengomunikasikan Identitas Sosial, Seksual, Kelas, dan Gender. Yogyakarta: Jalasutra.

Budiastuti. (2012). Jilbab dalam Perspektif Sosiologis (Studi Pemaknaan di Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Jakarta). Depok: Tesis. FISIP Program Pasca Sarjana UI.

Choliq, A. (2018). Proses dan Motif Berjilbab Standar ke Syar’i pada Pelajar MA Al Irsyad Gajah. Islamic Comunication Journal/Volume, 3(2)

Eddles-Hirsch, K., (2015). Phenomenology and Educational Research. International Journal of Advanced Research, 3(8).

Fitri, I., & Nurul R.A.K. (2013). 110 Kekeliruan Dalam Berjilbab. Jakarta Timur: Al- Magfirah

Fakhruroji, M., & Muhaemin. (2017). Akademisi Dakwah Terhadap Internet Sebagai Media Dakwah. Jurnal Sosioteknologi, 16 (1).

Hanifah, M. (2015). Pemaknaan Jilbab Kreatif bagi Perempuan Muslim sebagai Identitas Diri. Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro

Imam, T. (2013). Tafsir ayat jilbab kajian terhadap QS al-Ahzab (33): 59. Jurnal AtTaqaddum, 5(2).

Kaddi, S. M. (2018). Dialektika Komunikasi Suami Istri Pada Perkawinan Beda Etnik. (Studi Kasus Pada Pasangan Etnik Bugis dan Kaili di Kota Palu Sulawesi Tengah). Disertasi. Univesitas Padjadjaran.

Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa. (2014). Jakarta: Gramedia Pustaka.

Littlejohn, S. W. (2014). Theories of Human Communication (9 th ed), terjemahan, Jakarta, Salemba Humanika

Miranda, R., & Jenahara. (2014). Fashion Friendship. Jakarta: QultumMedia.

Mulyana, D. (2013). Metodologi Penelitian Kualitatif: Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Muchtar, K., Koswara, I., & Setiaman, A. (2016). Komunikasi Antar Budaya dalam Persefektif Antropologi. Jurnal Manajemen Komunikasi, 1(1), 113–124.

Sada, H. J. (2015). Konsep Pembentukan Kepribadian Anak Dalam Perspektif AlQur’an (Surat Luqman Ayat 12-19). Al-Tadzkiyyah: Jurnal Pendidikan Islam, 6(2), 253–272.

Siregar, N. S. S. (2011). Kajian Tentang Interaksionisme Simbolik. Jurnal Ilmu Sosial Fakultas lSIPOL UMA: PERSPEKTIF, 4(2).

Sobur, A. (2013). Filsafat Komunikasi Tradisi dan Metode Fenomenologi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sulthoni, A. N. (2010). Studi Interaksionisme Simbolik tentang Makna Sneaker dalam Komunitas Sneakerhead di Surabaya. Surabaya: Universitas Airlangga.

Thohari, C. (2011). Konstruksi Pemikiran Quraish Shihab tentang Hukum Jilbab: Kajian Hermeneutika Kritis. Malang: Jurnal, 14(1)

Utari, N. P., & Siregar, N. S. (2015). Pemaknaan Penggunaan Jilbab Syar’i diKalangan Mahasiswa Psikologi (Studi pada Forum Mahasiswa Islam Psikologi ( FORMASI ) Ar-Ruuh Universitas Medan Area). Jurnal Simbolika, 1(1).

West, R. & Turner, H. L. (2012). Pengantar Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi. Jakarta: Salemba Humanika.

Wijayanti, R. (2017). Jilbab Sebagai Etika Busana Muslimah dalam Perspektif Al-Qur’an. Cakrawala: Jurnal Studi Islam, XII (2).




DOI: https://doi.org/10.15575/cjik.v4i1.8652

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2020 Sitti Murni Kaddi, Enjang Muhaemin

Creative Commons License

Communicatus: Jurnal Ilmu Komunikasi is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

View My Stat View MyStat