WASIAT WAJIBAH UNTUK ANAK ANGKAT DALAM KHI DAN FIKIH
DOI:
https://doi.org/10.15575/adliya.v11i1.4854Abstract
Abstrak
Islam sebagai aturan hidup yang paripurna memiliki seperangkat aturan yang komprehensif mencakup berbagai sendi kehidupan manusia. Salah satu aturan dalam Islam adalah mengenai pengambilan seorang anak sebagai anak angkat. Islam mengatur bagaimana hubungan antara anak angkat dan orang tua angkatnya. Anak angkat tidak boleh dinasabkan kepada orang tua angkatnya dan di antara mereka tidak saling mewaÂrisi. Permasalahan akan muncul ketika seorang mengambil seorang anak sebagai anak angkat, namun tiba-tiba orang tua tersebut meningÂgal dunia. Sementara anak angkatnya masih kecil dan belum mampu untuk mencari nafkah sendiri. Apakah anak tersebut tetap tidak bisa mendapatkan bagian harta warisan orang tua angkatnya? Bagaimana persepsi Imam Madzhab mengenai hal ini?Kesimpulan dalam penelitian adalah bahwa Imam Madzhab membahas mengenai wasiat dalam makÂna umum, mereka belum membahas secara spesifik mengenai Wasiat wajibah. Namun statement mereka mengenai wasiat dapat menjadi dasar hukum bagi kebolehan Wasiat wajibah bagi anak angkat. AlasanÂnya adalah adanya kemashalahatan bagi anak angkat karena tidak ada yang menanggung beban hidupnya. Jika dia tidak bisa mendapatkan bagian dari harta yang ditinggalkan orang tua angkatnya, tentu akan memunculkan kemudharatan baginya.
Kata Kunci:Â Wasiat Wajibah, KHI, Anak Angkat
Â
References
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah bin Abdur-rahman Al-Bassam.1997. Taudhihul Ahkam fi syarh Bulughul Maram Juz IV, cet: III, Maktabah Nahdhah Al-Hadits, Makkah, KSA.
Abdul Mudjib, 2001, Kaidah-kaidah Ilmu fikih, Kalam Mulia, Jakarta.
Abdul Halim ‘Uwais, 1998, Fiqih Statis dan Fiqih Dinamis, Pustaka Hidayah, Bandung.
Abdurrahman, 2004. KHI di Indonesia, Akademika Pressindo, Jakarta
Abdurrahman Bin Nashir As-Sa’dy, 2000. Taisir Karim Ar-Rahman fi tafsir Kalam Al-Manan, Jum’iyah Ihya At-Turats Al-Islamy, Kuwait.
Abdurrahman Al-Jazairi, 1997. Fikih ala Madzahibul Arba’ah Juz III. Darul Ihya At-Turats Al-Araby, Beirut.
Abu Al-Fida’ Ismail bin Katsir Ad-Dimasyqi, 1994. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Adzim Jil. I, Maktabah Darus Salam, Riyadh.
Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, 1993. Al-Umm Juz IV, Darul Kutub Ilmiyyah, Beirut.
Abu Muhammad Ali bin Ahmad bin Sa’id bin Hazm Adz-Dzahiry, Tanpa Tahun. Al-Muhalla’, Darul Afaq Al-Jadidah, Beirut Libanon
A. Hassan, 2003. Al-fara’id Ilmu Pembagian waris, Cet. XV. Pustaka Progressif, Surabaya.
Anonimus, 1992. KHI. Dirjen binbaga Depag, Humaniora Utama Press, Bandung.
Anonimus, 1995. Mausu’ah Al-Fikihiyah Jil. XXXV, Wizarah Al-Auqaf wa Syu’un Al-Islamiyah, Kuwait
Ali Asy-Syobuny. H. Zaid Husain Al-Hamid (Penerjemah), Tanpa tahun. Ilmu Hukum Waris. Mutiara Ilmu, Surabaya.
Ahmad bin Ali Bin Hajar Al-Astqolaniy, 1989. Fathul Bary Syarh Shahih Al-Bukhory Juz V, Darul Kutub Ilmiyah, Beirut Libanon.
Ahmad Rofiq, 2008. Fikih Mawaris. PT. Raja Grafindo, Jakarta.
As-San’any, 1997. Subulus Salam Syarah Bulughul Maram, Juz III, cet: I. Jum’iyah Ihyau Turots Al-Islamy Kuwait.
A.W. Munawwir, 1997. Kamus Al-Munawwir Arab – Indonesia, Pustaka Progresif, Surabaya.
Bambang Sunggono, 1997. Metodologi Penelitian Hukum, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Cik Hasan Bisri, 2003.Penuntun Penyusunan Rencana Penelitian dan Penulisan Skripsi Bidang Ilmu Agama,PT. Raja Grafindo Persada.Jakarta
Fathurrahman Djamil, 1999. Filsafat Hukum Islam, cet . III. Logos Wacana Ilmu, Jakarta
Fatchur Rahman, 1981. Ilmu Waris, cet: II. PT Al-Ma’arif, Bandung.
Hazairin, 1964. Hukum Kewarisan Bilateral menurut Qur’an dan Hadits, cet. III. Tintamas, Jakarta.
Ibnu Mandzur, 1999. Lisan Al-‘ArabJuz XII, Darul Ihaya At-Turats Al-‘Araby, Beirut Libanon
Ibnu Qudamah Al-Maqdisi, 1999. Al-Mughni Juz VII. Darul Alam Al-Kutub, Saudi Arabia.
Idris Ramulya, 2004. Perbandingan Hukum Kewarisan Islam dengan Kewarisan KUH Perdata. Penerbit Sinar Grafika, Jakarta.
Jalaluddin Al-Mahalliy dan Jalaluddin As-Suyuti (Bahrun Abu Bakar = Penerjemah), 1995. Tafsir Jalalain Juz 3, Sinar Baru Algesindo, Bandung.
M. Budiarto, 1991. Pengangkatan Anak Ditinjau Dari Segi Hukum. Akapress, Jakarta.
Malik bin Anas, 1998. Al-Muwatho’, Jum’iyah Ihya At-Turats Al-Islamy, Kuwait.
Muhammad bin Ali bin Muhammad Asy-Syaukany, 1999. Nailul AutharJuz IV, Darul Kalam Ath-Thayib, Damaskus.
Sayyid Sabiq, 1987.Fikih Al-Sunnah Juz III, cet. VIII, Darul Kutub Al-Araby, Beirut.
Syamsul Wahidin dan Abdurrahman, 1984. Perkembangan Ringkas Hukum Islam di Indonesia. Penerbit Akademika Pressindo, Jakarta.
Soerojo Wignjodipoero, 1990. Pengantar dan Asas-asas Hukum adat, Haji Masagung, Jakarta.
Teungku M. Hasbi Ash-shiddiqi dkk. (Penerjemah), 1412 H.Al-Qur’an dan terjemahannya. Mujamma’ Khadim l-Haramain asy-Syarifain al-Malik Fahd li thiba’at al mushaf asy Syarif, Madinah KSA.
Teungku M. Hasbi Ash Shiddieqy, 1999. Fikih Mawaris. PT. Pustaka Rizki Putra, Semarang.
Wirjono Prodjodikoro, 1995. Hukum Warisan di Indonesia. Penerbit Sumur, Bandung.
Wahbah Zuhaily, 1984. Al-Fikih Al-Islam wa Adilatuhu, Juz VIII.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
Citation Check
License
Authors who publish in ADLIYA: Jurnal Hukum dan Kemanusiaan agree to the following terms:
- Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Attribution-ShareAlike 4.0 International (CC BY-SA 4.0) License that allows others to share the work with an acknowledgment of the work's authorship and initial publication in this journal.
- Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgment of its initial publication in this journal.
- Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work (See The Effect of Open Access).