YERUSALEM DALAM PUISI AL-QUDS KARYA NIZAR QABBANI (Kajian Semiotika Charles Sanders Pierce)

Astri Aspianti Sahida, Dedi Supriadi

Abstract


Konflik di Palestina-Israel menjadi perbincangan panjang dunia. Perang yang berlangsung sejak masa kekhalifahan itu terus terjadi hingga kini. Yerusalem atau Al-Quds biasa orang Arab menyebutnya sebagai kota yang indah, bukan hanya dari segi bangunannya namun juga memiliki kedudukan inti dari ketiga agama samawi, tiga simbol hidup damai dengan berdampingan. Tujuan penelitian ini untuk memaparkan deskripsi atau situasi kondisi Yerusalem dalam puisi Al-Quds serta mendeskripsikan makna dari simbol yang terdapat didalamnya. Metode yang digunakan ialah deskriptif analitik. Adapun teori pendekatan yang digunakan ialah teori pendekatan semiotika Charles Sanders Peirce untuk menjelaskan proses semiosis segitiga tanda atau yang kita kenal sebagai triadik untuk mengetahui Representament, Object, dan Interpretant, kemudian dihubungkan dengan sejarah yang melatarbelakanginya. Hasil penelitian dalam puisi Al-Quds karya Nizar Qabbani yang terdiri dari 39 bait tersebut dapat disimpulkan bahwa keadaan yang tergambar dalam puisi menunjukan kondisi Yerusalem atau Al-Quds yang sedang bersedih akibat perang yang berlangsung sejak lama. Pengarang dengan gaya bahasa yang selalu mengindikasikan sebuah ratapan, seakan menggambarkan bahwa tidak ada satupun hal yang dapat ia lakukan. Nizar Qabbani banyak menggunakan kata tanya dalam puisinya guna menjadi bahan muhasabah diri bahwa apa yang harusnya kita lalukan sebagai sesama manusia kepada para pembacanya. Dan tidak hanya itu, dalam puisi pun terekam dampak buruk terjadi yang diakibatkan oleh perang itu sendiri.

 

Long conflicts of Israel-Palestine have been an animated topic of discussion everywhere in the world. This paper aims to unveil Jerusalem's description in poetry entitled Al-Quds by Nizar Qabbani and describe the symbols' meaning. The method used is descriptive analytics. The theoretical approach used is the semiotics theory by Charles Sanders Peirce, sign triangle or triadic to find out the Representament, Object, and Interpretant, and try to connect its history. The study reveals that poetry consists of 39 stanzas depicts the dreadful situation in Jerusalem due to constant conflicts there. His language style is a multitude of laments that illustrate nothing we can do in this hopeless, desperate predicament of endless war. He uses question words in his poetry for muhasabah (self-retrospections) he believes we should do as fellow human beings. The poetry also records all the war's harmful effects, where the hope for peace settlement as a final solution seems going amiss.


Keywords


Jerusalem; Al-Quds; Poetry; Semiotics; Charles Sanders Peirce; History; Puisi; Semiotika;

References


A Teeuw. (1980). Sastra Baru Indonesia. Flores: Nusa Indah.

Pradopo, R. D. (2010). Pengkajian Puisi: Analisis Strata Norma dan Analisis Struktual dan Semiotik. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Rachman, R. (2011). Hari Raya Liturgi Sejarah dan Pesan Pastoral Gereja. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Sobur, A. (2006). Semiotika Komuniasi . Bandung: Remaja Rosdakarya.

Subroto. (1992). Penelitian Kualitatif. Jakarta: Raja Grafindo Persada.




DOI: https://doi.org/10.15575/hijai.v3i2.8795

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Copyright (c) 2020 Hijai - Journal on Arabic Language and Literature

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.

ISSN: 2621-1343