Pribumisasi Dalam Pandangan Abdurahman Wahid

A. Soheh Mukarom

Abstract


Indigenization (pribumisasi) of Islam in Java can not be compared to syncretism because it only involves local culture in defining Islamic laws without changing its substances to meet local culture. Indigenization as Wahid means is how Islamic doctrines are interpreted so that local culture is valid in terms of Islamic jurisprudences. On the other hand, syncretism is mixing two or more religious beliefs and as a result it makes another and new form of belief as exemplified in ritual practice of a thousand deity temple in India.


Keywords


indigenization (Pribumisasi), local culture, Arabisasi, Nash

Article metrics

Abstract views : 6 | PDF views : 4


DOI: https://doi.org/10.15575/rjsalb.v2i1.2217

Full Text:

PDF (Indonesian)

References


Bahtiar Efendy, Islam dan Negara: Transformasi dan Praktek Politik Islam di Indonesia, Paramadina, Jakarta, 1998.

M. C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern, terj Dharmono Hardjowijono, Gadjah Mada University Press, Yogakarta, 1992

Kuntowijoyo, Dinamika Sejarah Umat Islam Indonesia, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1994.

Tim INCReS, Beyond The Symbols. Jejak Antro[pologis Pemikiran dan Gerakan Gusdur, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2000.

Wahid, Abdurrahman, “Pribumisasi Islam”, dalam Muntaha Azhari dan Abdul Mun‟im Saleh (eds.), Islam Indonesia Menatap Masa Depan, Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M), Jakarta, 1989.

-------, “Salahkah Bila Dipribumikan” dalam Muhammad Saleh Isre (ed.), Tuhan Tidak Perlu Dibela, LKIS, Yogyakarta, 2000.

------- ,. Kiai Menggugat Gus Dur Menjawab:

Sebuah Pergumulan Wacana dan Transformasi, Fatma Press, Jakarta, 1989.

-------, “Merelevansikan Bukannya Menghilang-kan” dalam Amanah, Agustus 1987.

--------, “Agama Ideologi dan Pembangunan” dalam Muhammad Shaleh Isre (ed), Prisma, Pemikiran Abdurrahman Wahid, LKiS,

Yogyakarta, 2000.

-------- , “Antara Asas Islam dan Asas Pancasila”, dalam Zaini Shafari Al Raef dan Andri Taufik H. Membangun Demokrasi, Remaja Rosdakarya, Bandung: 2000.

--------, “Masa Islam dalam Kehidupan Bernegara dan Berbangsa”, dalam Prisma No. Ekstra. 1984.

--------, “Merumuskan Hubungan Ideologi Nasional dan Agama”, dalam Majalah Aula Tanpa tempat terbit, Mei 1985.

--------, “Islam Punyakah Konsep Kenegaraan”, dalam Muhammad Shaleh Isre (ed), Tuhan Tidak Perlu Dibela, LKiS, Yogyakarta, 2000.

--------, “Sekuler tidak Sekuler”, dalam Muhamad Shaleh Isre (ed). Tuhan Tidak Perlu Dibela., LKiS, Yogyakarta, 2000.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


RELIGIOUS: JURNAL STUDI AGAMA-AGAMA DAN LINTAS BUDAYA INDEXED BY:

    

 

_____________________________________________________________________________________________________

visitors Religious

 Copyright of RELIGIOUS: JURNAL AGAMA DAN LINTAS BUDAYA  p-ISSN: 2528-7230 e-ISSN: 2528-7249

 

 

Lisensi Creative Commons
RELIGIOUS: JURNAL AGAMA DAN LINTAS BUDAYA disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional.