Resistensi Arat Sabulungan terhadap Modernisasi: Analisis Kritis atas Novel Burung Kayu Karya Niduparas Erlang
DOI:
https://doi.org/10.15575/jt.v6i1.25670Keywords:
ideologi pembangunan, masyarakat adat, sosiologi perdesaan, suku lokal, wacana kritisAbstract
Pembangunan masyarakat adat sering kali menggunakan pendekatan modernisasi yang berbasis top-down. Demikian juga upaya yang dilakukan Pemerintah Indonesia dalam membangun masyarakat adat Mentawai. Melalui Rapat Tiga Agama, Pemerintah memaksa masyarakat adat Mentawai meninggalkan agama leluhur mereka (Arat Sabulungan) dan memilih salah satu agama orang luar (Islam, Kristen). Pembangunan masyarakat adat dengan mengusung ideologi modernisme selalu berhadapan dengan resistensi dalam berbagai bentuknya. Karena itu, penting dilakukan studi bagaimana masyarakat adat Mentawai yang tetap menganut Arat Sabulungan melakukan resistensi terhadap ideologi modernisme yang diusung Pemerintah dalam pembangunan. Data yang bersumber dari novel Burung Kayu karya Niduparas Elang ini, dianalisis menggunakan metode studi wacana kritis model Teun A. Van Dijk yang bertujuan menganalisis bagaimana teks novel Burung Kayu merepresentasikan resistensi Arat Sabulungan terhadap ideologi modernisme. Artikel ini menunjukkan resistensi masyarakat adat Mentawai terhadap ideologi modernisme dilakukan dengan resistensi sehari-hari dalam bentuk perseteruan antar uma, perseteruan uma dengan Pemerintah, perseteruan Pemerintah dengan sikerei, dan perseteruan uma dengan orang sasareu. Perseteruan-perseteruan yang terjadi menunjukkan tidak kompatibel pendekatan modernisasi berbasis top-down dalam pembangunan masyarakat adat Mentawai.References
Ardhanari, M., Nugrohadi, G. E., & Viphindrartin, S. (2021). Phenomenology Study of the Socio-Economic Strengthening of the Mentawai Indigenous Peoples. Media Trend, 16(1), 123–129.
Delfi, M. (2012). Sipuisilam Dalam Selimut Arat Sabulungan Penganut Islam Mentawai Di Siberut. Al-Ulum, 12(1), 1–34.
Delfi, M. (2013). Islam and Arat Sabulungan in Mentawai. Al-Jami’ah, 51(2), 475–499.
Delfi, M. (2017). Local Belief System, Tatouage, Tradition and Adaptation in Mentawai. Borderless Communities & Nation With Borders Challenges of Globalisation, 899–911. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada & Universitas Islam Indonesia.
Dijk, T. A. van. (2015). Critical Discourse Studies: A Sociocognitive Approach. In R. Wodak & M. Meyer (Eds.), Methods of Critical Discourse Analysis 3rd Edition (pp. 62–85). Sage.
Erlang, N. (2020). Burung Kayu. Jakarta: Teroka Gaya Baru.
Febrianti. (2021, November). Arat Sabulungan dan Gempuran Agama di Mentawai. Jurnalistravel.Com.
Foucault, M. (2020). Power/knowledge. In The new social theory reader (pp. 73–79). Routledge.
Glossanto, K. (2019). Sabulungan Dalam Tegangan Identitas Budaya : Kajian atas Religi Orang Mentawai di Siberut Selatan. Universitas Sanata Dharma.
Hanani, S., & Nelmaya. (2022). Ecological Ethics in The Theological Teaching of Arat Sabulungan in Mentawai Island Indonesia. Kasetsart Journal of Social Sciences, 43(1), 102–107.
Haryatmoko. (2019). Critical Discourse Analysis (Analisis Wacana Kritis): Landasan Teori, Metodologi dan Penerapan. Depok: Depok: Rajawali Pers.
Hollander, J. A., & Einwohner, R. L. (2004). Conceptualizing resistance. Sociological Forum, 19, 533–554. Springer.
Johansson, A., & Vinthagen, S. (2014). Dimensions of Everyday Resistance: An Analytical Framework. Critical Sociology, 42(3), 1–19. https://doi.org/10.1177/0896920514524604
Krissandi, A. D. S., Widanarto, S., & Utami, W. E. (2019). Posthumanisme Masyarakat Mentawai. Indonesia Di Tengah Pascahumanisme: Merumuskan Model Humanisme Baru, 9–15. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.
Kurniawan, R. (2019). Harmonisasi Masyarakat Mentawai. Al-Qalb : Jurnal Psikologi Islam, 9(2), 111–118.
Markus. (2016). Perayaan Jubileum 100 Tahun Gereja Kristen Protestan di Mentawai.
Rahman, M. T. (2018). Pengantar filsafat sosial. Bandung: Lekkas.
Rozi, S., & Taufik, Z. (2020). Adaptation of Religion and Local Wisdom in Global Environmental Issues in Indonesia. Religious: Jurnal Studi Agama-Agama Dan Lintas Budaya, 4(3), 191–203.
Shields, R. (1991). Ritual pleasures of a seaside resort.
Tatubeket, R. M., Agustina, & Ef, A. (2019). Peran Musik Tuddukat dalam Ritual Arat Sabulungan di Kabupaten Mentawai. 13(1), 75–105.
Wirman, E. P., Ilham, M., Ananda, A., & Fatimah, S. (2021). The Cultural Syncretic Strategy of The Muslim Minority : A Case in the Mentawai Islands- Indonesia. 83–90.
Yulia, R., & Naldi, H. (2018). Improving the Government Policy on the Arat Sabulungan Tradition in Mentawai Islands. 10(October), 59–74.
Yulia, R., Zulfa, -, & Kaksim, -. (2019). Education Values of Arat Sabulungan Tradition in Matotonan Mentawai. 178(ICoIE 2018), 178–181.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Authors who publish in Temali: Jurnal Pembangunan Sosial agree to the following terms:
- Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Attribution-ShareAlike 4.0 International (CC BY-SA 4.0) License that allows others to share the work with an acknowledgment of the work's authorship and initial publication in this journal.
- Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgment of its initial publication in this journal.
- Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work (See The Effect of Open Access).