Studi Keadaan Oksidasi Besi pada Air Hujan

Authors

  • Hidayah Hidayah Jurusan Kimia Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Indonesia
  • Dede Suhendar Jurusan Kimia Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Indonesia
  • Tety Sudiarti Jurusan Kimia Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Indonesia
  • Emay Maesaroh Jurusan Kimia Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.15575/ak.v6i1.4685

Keywords:

Inorganic Chemistry

Abstract

Air hujan merupakan sumber air permukaan dan air tanah. Air hujan terbentuk melalui beberapa proses yakni kondensasi, presipitasi, evaporasi, dan transpirasi. Air hujan memiliki kandungan besi dalam bentuk partikulat dan terlarutnya seperti ferro (Fe2+) dan ferri (Fe3+). Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menentukan kandungan Fe total, Fe(II) dan Fe(III) dalam air hujan serta perbandingannya dengan air hujan dari tiga tempat yang berbeda dan untuk mempelajari kandungan air hujan yang dapat mereduksi Fe(III). Fe total dianalisis dengan menggunakan instrumen Spektrofotometer Serapan Atom (SSA). Ion Fe(II) dan Fe(III) dianalisis dengan instrumen Spektrofotometer UV-Vis menggunakan ligan Fenantrolin dan KSCN sehingga membentuk senyawa kompleks [Fe(C12H8N2)3]2+ dan [Fe(SCN)6]3-. Derajat keasaman air hujan dianalisis menggunakan pH meter sedangkan keadaan oksidasi besi pada air hujan dianalisis menggunakan Spektrofotometer UV-Vis dengan pelarutan aqua dm dan air hujan yang turun di kawasan industri, pegunungan dan pemukiman. Hasil analisis menunjukkan kandungan Fe total, Fe(II) serta Fe(III) dalam air hujan yang turun sekitar industri, pegunungan dan pemukiman secara berturut-turut yaitu Fe total 0,5655; 1,6854; dan 2,4232 ppm, Fe(II) 0,0867; 0,2232 dan 0,0731 ppm, dan Fe(III) 0,5198; 0,4994 dan 0,5672 ppm. Dari perbandingan geseran panjang gelombang maksimum sinar tampak larutan FeSO4.7H2O teknis dan pro analisis dengan pengompleks fenantrolin diperoleh bahwa air hujan memiliki daya reduksi terhadap ion Fe3+.

References

Tukidi, Karakter Curah Hujan di Indonesia. Unnes, 2010.

B.C. Mathelumual, "Potensi Terjadinya Hujan Asam di Kota Bandung", Lingkungan dan Bencana Geologi, vol. 1, pp. 59-70, 2009.

K. Takeda dan S. Sosrodarsono, Hidrologi untuk Pengairan. Jakarta: PT Pradnya Paramita, 2003.

N. Bouchard, K. Harmon, H. Markham, dan S. Vandefifer, "Effect of Various Types of Water on the Growth of Radishes (Raphanus sativus)," 2007.

Hefni Effendi, Telaah Kualitas Air. Yogyakarta: Kanisius, 2003.

J.D. willey dan R.J. Kieber, "The Role of Fossil Combustion on The Stability of Dissolved Iron in Rainwater," Atmospheric Environment, vol. 107, pp. 187-193, 2015.

G.R. Rout dan S. Sahoo, "Role of Iron in Plant Growth and Metabolism," Agricultural Science, vol. 3, pp. 1-24, 2015.

J.D. Willey, K.M. Mullaugh, R.J. Kieber, G.B.A. Jr, dan R.N. Mead, "Controls on the Redox Potential of Rainwater," Environmental Science and Technology, vol. 45, pp. 13103-13111, 2012.

R.J Kieber, B. Peake, J.D Willey, dan B. Jacob, "Iron Specation and Hydrogen Peroxide Concentrations in New Zealand Rainwater," Atmospheric Invorenment, 2001.

A.I.A.B. Sreea, A.A.A.A. Yassen, dan A.A. El Kazzaz, "Effect of Iron(II) Sulfate and Potassium Humate on Growth and Chemical Composition of Coriandum sativum L," Agricultural Research, vol. 04, pp. 136-145, 2017.

Downloads

Published

2019-07-06

Citation Check